Minggu, 27 Maret 2016

New Best Record

GIANLUIGI BUFFON
973' NEW BEST RECORD CLEAN SHEET


Kali ini saya akan membahas kehebatan dari seorang Goalkeeper dari club Juventus serta Italy. Gianluigi Buffon sudah tak muda lagi; 28 Januari 2016 lalu adalah ke-38 kalinya kiper timnas Italia dan Juventus tersebut merayakan ulang tahun.




Buffon rencananya masih ingin terus bermain bersama Juventus, ia sempat mengatakan akan pensiun jika timnas Italia sudah tak membutuhkannya lagi. Tapi hingga saat ini, Buffon masih menjadi pilihan utama bahkan untuk Piala Eropa 2016 nanti. Sebenarnya Buffon sudah memiliki rencana tersendiri terkait kariernya di dunia sepakbola. Saat ia diwawancarai Football Italia usai menerima penghargaan Gianni Brera Award Sportsman of the Year 2016 beberapa waktu lalu, ia mengatakan akan pensiun usai Piala Dunia 2018.


Penjaga gawang andalan Juventus, Gianluigi Buffon, mengukir rekor tak kebobolan atau clean sheet di Serie A selama 973 menit. Buffon pun mendedikasikan prestasi pribadinya itu untuk Juventus.

Buffon meraih predikat tersebut ketika Juventus berhadapan dengan sang rival sekota, Torino, di Stadion Olimpico Turin. Pada laga itu, Juventus menang 4-1 atas Torino.

Rekor Buffon terhenti di angka 973 menit setelah penyerang Torino, Andrea Belotti, berhasil membobol gawang Juventus pada menit ke-48, melalui eksekusi penalti.

Meskipun demikian, Buffon telah melewati pemegang rekor clean sheet sebelumnya, Sebastiano Rossi (eks kiper AC Milan), yang tidak kebobolan selama 929 menit.

Sebelum laga kontra Torino berlangsung, Buffon mengaku nyaris absen karena mengalami demam ringan. Namun pada akhirnya, Buffon tetap tampil dan mencatatkan rekor baru.

Pria berusia 38 tahun itu pun mempersembahkan rekor clean sheet-nya untuk Juventus, klub yang telah diperkuatnya sejak Juli 2001.

Kemungkinan rekor tersebut akan sangat sulit terpecahkan sampai 5-10 musim kedepan, karena masih belum ada sosok keeper tangguh lagi di Serie-A selain Gianluigi Buffon.


"FINO ALLA FINE ALLE FORZA JUVENTUS"





Sabtu, 26 Maret 2016

J-Medical

J-Medical Opening

Club Juventeus memastikan kesuksesan di lapangan adalah tujuan utama dari Juventus dan kunci dari hal ini adalah tetap dalam kondisi prima dalam tiap pertandingan.
Setelah membuka J-Stadium di 2011 dan J-Museum setahun kemudian, klub memperoleh hasil yang signifikan, memenangkan delapan gelar sejak saat itu, namun inovasi terus menerus dibutuhkan untuk membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.

Hari ini, Juventus kembali mengambil langkah penting menuju ke arah ini dengan meresmikan J-Medical, sebuah pusat kesehatan paling mutakhir, dibangun dengan kolaborasi bersama Santa Clara Group, bertempat di Tribun Timur J-Stadium, berdekatan dengan J-Museum.
Tujuannya? Untuk menggabungkan para ahli kesehatan Bianconeri dan pengalaman dari salah satu operator layanan kesehatan terdepan di Italia dalam sebuah pelayanan yang inovatif dan kelas pertama, yang akan menguntungkan bari atlet profesional maupun pasien pribadi lainnya.

“J-Medical mewakili langkah selanjutnya dalam hal memperkuat fasilitas-fasilitas di klub,” CEO Juventus  memulai. “Tujuan dari fasilitas ini adalah untuk memberikan dukungan berkualitas bagi staf medis kami, serta memperbesar jaringan yang telah dibuat klub dalam beberapa tahun terakhir dengan spesialis-spesiali tingkat atas. Untuk membuat hal ini berjalan, sangat penting untuk menemukan mitra yang memiliki pengalaman yang sudah diketahui umum dalam bidang pengobatan, dimana Santa Clara Group merupakan rekanan yang memenuhi kriteria tersebyt. Kami juga menjalani kerja sama dengan General Electric yang menjamin alat-alat diagnostik kami merupakan yang paling mutakhir. Lebih jauh lagi, kami telah membangun sebuah tim, yang terdiri dari 39 staf medis, yang terbaik di bidangnya.”
 
Melanjutkan dari Mazzia adalah Elio Testa, CEO dari J-Medical dan presiden Santa Clara Group, yang menekankan bagaimana tujuan utama J-Medikal adalah “untuk menempatkan pasien di atas segalanya.”
“Adalah tanggung jawab kami untuk memperlakukan tiap pasien di tiap usia sama seperti atlet, seorang juara, yang akan menemukan staf medis dan fasilitas terbaik untuk mereka.”

Yang berbicara selanjutnya adalah Marco Campione, presiden dan CEO dari GE Healthcare Italia, bagian kesehatan dari General Electric, bertanggung jawab untuk menyediakan perlengkapan dan peralatan medis kelas pertama di J-Medical.
“Adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan bahwa J-Medical memilih kami sebagai rekanan,” Campione mengawali. “Untuk membuat sebuah fasilitas kesehatan yang inovatif berdasarkan model layanan kesehatan modern, kami mengidentifikasi beberapa area tertentu yang menjamin perhatian spesial.
“Pertama, kesehatan dari wanita dan keamanan bagi pasien melalui penggunaan teknologi terkini untuk melakukan mamograf dan X-rays. Kemudian, pemberian informasi yang memungkinkan dokter untuk memperoleh seluruh data pasien dengan cepat. Terakhir, area dari pengobatan olah raga, yang mana J-Medical menerapkan standar tertinggi.”

Menutup konferensi pers adalah CEO Bianconeri Giuseppe Marotta yang menegaskan tanggung jawab dari klub sepak bola adalah untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, menjelaskan J-Medical sebagai contoh untuk diikuti bersama-sama oleh dunia olah raga Eropa.
Ia menyimpulkan: “J-Medical memberikan bukti terkini bagaimana Juventus Stadium menjadi institusi yang terdepan dalam dunia sepak bola. Disinalah pengalama seorang atlet dimulai, apakah itu untuk tes kebugaran bagi para pemuda yang mencari impian di dunia olah raga ataupun bagi para pemain baru.
“Ini adalah struktur independen dengan staf medis tersendiri di bawah pengawasan dokter Fabrizio Tencone, namun satu hal yang hadir dari konsep ini adalah, bahwa klub sepak bola perlu memainkan peran kunci dalam masyarakat. Untuk alasan ini, kami memutuskan untuk memperluas kompetensi kami dalam bidang kesehatan yang memberikan keuntungan bagi pasien dari luar. Saya yakin ini akan memberikan contoh baik dalam sepak bola Eropa.

"FINO ALLA FINE ALLE FORZA JUVENTUS"

 

Kamis, 17 Maret 2016

SEJARAH DRUGHI JUVENTUS 
(FANS BERGARIS KERAS)


Halo para Tifosi Juventus di Indonesia serta para pengunjung Blog ini, kali ini saya akan sedikit menceritakan tentang sejarah suporter Juventus bergaris keras atau yang dikenal dengan nama Drughi Bianconeri. Semoga informasi ini dapat membantu menambah sedikit pengetahuan anda-anda sekalian.
Sejarah terbentuknya DRUGHI juventus
Kelompok superter sejati Juventus yang pertama muncul di pertengahan tahun 70-an. Saat itu ada dua kelompok tifosi sayap kiri dan organisasinya masih belum bagus. Dua kelompok itu adalah Venceromos dan Autonomia Bianconera. Lalu di tahun 1976 terbentuklah 2 kelompok suporter ultras sejati Juve, Fossa Dei Campioni dan Panthers. Baru setahun kemudian kelompok tifosi ultras yang legendaris berdiri, Fighters. Kelompok ini diprakarsai oleh Beppe Rossi. Beliau merupakan tokoh yang sangat berpengaruh bagi seluruh tifosi Juve dan menjadi panutan para ultras muda di Turin.
Awal era 80-an kelompok-kelompok suporter baru bermunculan. Gioventu Bianconera, Area Bianconera, dan Indians adalah beberapa diantaranya. Dua kelompok ultras yang ekstrim juga berdiri di periode ini, Viking dan Nucleo Armato Bianconero (N.A.B). Dua kelompok ini benar-benar menjadi grup tifosi yang dihormati di dalam dan di luar Delle Alpi. Viking dan N.A.B adalah kelompok yang benar-benar mengingatkan orang pada kata hooligans. Itu dikarenakan mereka tidak pernah takut bertempur dengan supporter klub manapun di dalam atau di luar stadion. Tahun 1983 kelompok Juventini yang berbeda dibentuk untuk menjalani partai tandang pertama mereka ke Eropa (Liege, Belgia tahun 1983).
Tahun 1987 kelompok tifosi bersejarah Fighters akhirnya dibubarkan setelah berjaya selama 10 tahun. Penyebabnya saat itu karena terjadi banyak kekerasan dan perkelahian dalam partai tandang ke Florence, melawan rival Juve, Fiorentina. Sebagian besar anggota Fighters lama, bersama dengan anggota Indians dan Giuventu Bianconera, membentuk sebuah kelompok supporter ultras yang baru, Arancia Meccanica (Clockwork Orange). Nama ini terinspirasi oleh film Stanley Kubrick berjudul sama yang populer saat itu.
Nama itu menimbulkan kesan kekerasan dan negatif sehingga menimbulkan banyak masalah. Karena itu kelompok ini dipaksa untuk merubah nama kelompok mereka. Para fans sepakat untuk membodohi politisi kota Turin dengan merubah nama kelompok mereka menjadi Drughi. Drughi merupakan nama geng dimana tokoh utama film Clockwork Orange, Alex, bergabung. Lucunya, para politisi Turin terlambat menyadari hal ini. Drughi pun berkembang dan menjadi kelompok supporter terpenting dalam sejarah Juventus. Dalam kurun waktu antara 1988 sampai 1996 Drughi memiliki 10.000 anggota.
Pada tahun 1993 beberapa anggota Drughi memperoleh otonomi dan menghidupkan kembali kelompok tifosi lama, Fighters. Empat tahun setelahnya Fighters dan Drughi bersaing untuk menjadi yang terbaik di La Curva Scirea. Drughi menggantung banner mereka tepat di tengah La Curva Scirea Delle Alpi, sedangkan Fighters harus memasang banner mereka di sebelah kanannya.
 
Setelah Juve memenangkan Piala Champions atas Ajax tahun 1996, para supporter sangat bergembira dan memutuskan untuk berkolaborasi. Drughi, Fighters, dan beberapa kelompok kecil lainnya di La Curva Scirea memutuskan untuk bersama mendukung Juve dibawah satu nama, Black and White Fighters Gruppo Storico 1977. Nama Fighters pun memperoleh kembali kejayaan seperti awalnya tepat 20 tahun sejak kelompok supporter itu berdiri.
Dan ini adalah beberapa para petinggi –  petinggi dari Kelompok Garis Keras ini.
Dino Rivoli adalah salah pemimpin legendaris Drughi. dia mati ditikam oleh salah seorang ultras ketika Viking, Nucleo, ultras ex-Fighters dan Drughi terlibat tawuran tahun 2006 setelah game persahabatan vs Alessandria. Dino sudah menjulang saat dia ditangkap Polisi krn kasus pembunuhan dan perampokan thn 1989, dan saat itu dia sdh menjadi leader dr Drughi.
kita gak akan cuma menemukan banner Ciao Dino di kandang Juventus, di kalangan ultras2 lain di Italia, nama Dino adalah nama yg sdh mendapat tempat di hati mereka.
Sudah jadi adat di italia bahwa pemegang curva sud bisa dibilang kelompok suporter terhebat dan paling berjaya di klub atw stadion tersebut. Perebutan kekuasaan dan konflik intern antar kelompok suporter juve pun sering terjadi bahkan tak jarang ada tawuran antar sesama suporter dan ada semacam tingkatan kasta lewat letak banner antar kelompok. 

Minggu, 13 Maret 2016

 Juventus Stadium



Juventus Stadium adalah untuk sebuah stadion sepak bola di Turin, Piedmont yang menjadi stadion tuan rumah untuk pertandingan Juventus. Nama resmi untuk stadion belum ditentukan sejak Sportfive membeli hak eksklusif untuk penamaan stadion pada tanggal 18 Maret 2008. Stadion ini resmi dibuka di pada 8 September 2011 dan memiliki kapasitas 41.000 penonton. Stadion ini dibangun di atas lahan bekas Stadion Delle Alpi.

Latar belakang
Stadion kandang Juventus sebelumnya yaitu Stadion Delle Alpi dipakai pada tahun 1990 untuk menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia 1990.[4] Kepindahan klub ke Delle Alpi dari stadion sebelumnya yaitu Stadion Comunale dianggap kontroversial saat itu.[4] Kepindahan Juve ke Delle Alpi juga dipenuhi kritik karena jarak pandang dari tribun penonton ke lapangan dianggap terlalu jauh dan menyulitkan bagi penonton yang datang sehingga menjadikan Juventus saat itu malah lebih banyak yang menontonnya dari siaran langsung televisi.[4] Kapasitas Delle Alpi adalah 67.000 kursi tetapi hanya setengahnya saja yang kerap terisi setiap Juventus bermain disana.[4] Juventus kemudian membeli Delle Alpi dari Pemda Turin pada tahun 2003.[5]
Juventus kemudian pindah dari stadion tidak populer tersebut di tahun 2006 dan mulai berencana untuk membangun tempat yang lebih menyenangkan bagi pemain dan fans.[5][4] Untuk sementara, mereka berbagi Stadio Olimpico di Torino yang baru direnovasi dengan klub sekota Torino F.C., yang juga kurang populer karena kapasitas rendah.[5]
Pada November 2008, klub mengumumkan rencana untuk membangun stadion berkapasitas 41.000 penonton di bekas lokasi Stadion Delle Alpi.[5] Stadion baru tersebut dibangun dengan biaya €100 juta (£90 juta) dan diputuskan didalamnya bahwa lintasan atletik yang menjadi ikon Delle Alpi untuk dihapuskan dan membuat stadion yang mirip dengan stadion sepakbola di Inggris. Juventus menjadi klub Italia pertama yang membangun dan memiliki stadion sendiri.
Upacara pembukaan stadion diadakan pada tanggal 8 September 2011, dengan pertandingan eksibisi sejarah melawan Notts County.[6] Pertandingan berakhir 1-1 dengan gol dari Luca Toni dan Lee Hughes di babak kedua.[7] Sebagai imbalannya, Notts County kemudian mengundang Juventus untuk bertanding kembali di Meadow Lane pada tahun 2012 untuk merayakan ulang tahun ke 150 klub tersebut.

Fasilitas

Stadion ini memiliki kapasitas 41.000 penonton, termasuk 3.600 kursi premium dan 120 kotak eksekutif.[8][5][9] Jarak antara lapangan dengan tribun penonton hanya 7,5 meter dan menjadi peningkatan besar dari Stadion Delle Alpi.[10] Jarak antara baris terakhir dari tribun dan lapangan adalah 49 meter.
Selain itu, sebuah kompleks perbelanjaan seluas 34.000 m2 yang buka setiap hari juga disediakan dan ruang parkir untuk 4.000 kendaraan. Sebuah museum yang didedikasikan untuk sejarah Juventus juga dibangun di kompleks stadion ini.

SEJARAH JUVENTUS


Menurut cerita, Juventus didirikan pada tahun 1897 oleh sekelompok anak laki-laki yang ingin mendirikan sebuah klub olahraga, terutama sepak bola.
Jika cerita tersebut sepeuhnya akurat, sekelompok anak laki-laki tersebut mungkin tidak pernah menduga klub yang mereka dirikan menjadi salah satu klub sepakbola paling sukses di dunia.
Bianconeri memenangkan kejuaraan liga pertama pada tahun 1905. Sayangnya, setahun kemudian terjadi perpecahan klub.
Presiden Juventus waktu itu, Alfredo Dick, merasa kecewa dan membentuk klub lain FBC Torino serta membawa beberapa pemain bersamanya.
Torino sekarang merupakan rival sekota Jeventus, tetapi tidak menikmati kesuksesan yang sama seperti Bianconeri.
Juventus memenangkan juara liga kedua pada musim 1925-1926 setelah pemilik Fiat, Edoardo Agnelli, mengambil alih dan membangun stadion baru. Lima lagi scudetti (gelar liga) kembali mereka peroleh pada tahun 1930-an.
Setelah dua dekade absen prestasi, Juventus kembali bangkit pada tahun 50-an dengan meraih empat gelar liga.
Pada musim 1957-1958, Juventus mengontrak dua striker, John Charles dan Omar Sivori, dengan Sivori menjadi pemain pertama klub yang memenangkan penghargaan European Footballer of the Year.
Salah satu manajer Juventus yang dianggap paling sukses adalah Giovanni Trapattoni yang bergabung pada tahun 1976.
Trapattoni memenangkan semua kompetisi klub UEFA bersama Juventus serta enam juara liga antara tahun 1976 hingga 1986.
Selama masa jabatannya, Juve memenangi gelar liga ke-20 dan mendapatkan Piala Eropa perdananya pada tahun 1984. Ini adalah periode manis saat dua pemain legendaris Paolo Rossi dan Michel Platini turut bergabung bersama Juventus.
Juventus masih dominan saat Marcello Lippi mengambil alih di pertengahan 1990-an. Mereka memenangi tiga gelar liga dan satu Piala Eropa.
Zinedine Zidane dan Alessandro Del Piero umumnya dianggap sebagai pemain Juventus terbesar era 90an hingga 2000an.